Kamis, 02 Februari 2012

Air Terjun Srigethuk, Oase di Gunungkidul

Kabupaten Gunungkidul di Provinsi DI Yogyakarta makin terkenal dengan pantai-pantai barunya yang indah. Namun, selain pantai, wilayah ini juga dianugerahi dengan keindahan alam lain yakni gua dan air terjun. Air terjun Srigethuk adalah salah satu lokasi wisata baru yang menjadi buah bibir selama setahun terakhir ini. 

Ketika saya berkunjung ke Srigethuk akhir pekan lalu, kesan pertama saya adalah adanya kemiripan dengan Green Canyon di Jawa Barat. Namun, tentu saja setiap lokasi memiliki keunikan sendiri-sendiri.

Pada dasarnya, inti objek wisata Srigethuk ini adalah tiga air terjun yang berada dalam satu lokasi. Ketiga air terjun tersebut jatuh di bebatuan yang sama kemudian bersama-sama mengalir di Sungai Oya. Masing-masing air terjun tersebut berasal dari tiga sumber mata air, yaitu Dong Poh, Ngandong, serta Bleberan.  Selain ketiga air terjun utama, ada beberapa air terjun kecil — dalam bahasa Jawa disebut kriwikan — di lokasi tersebut.



Objek wisata ini masih cukup baru sehingga infrastruktur pun masih terbatas. Namun, jangan khawatir, sarana dasar seperti toilet dan warung makan sudah tersedia di sini. Hingga saat ini, objek wisata Srigethuk masih dikelola secara lokal oleh pihak Desa Bleberan.

Walaupun sarana masih terbatas, pihak pengelola telah membangun tangga batu dari tempat parkir menuju ke tepi sungai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir ketika menuruni tebing. Butuh waktu sekitar 5-10 menit untuk mencapai bibir sungai. Setibanya di pinggir sungai Oya, Anda akan dimanjakan dengan paduan warna kehijauan sungai serta tumbuh-tumbuhan yang mengelilinginya. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi tertiup angin.

Dari sini Anda tidak dapat langsung melihat air terjun utama, hanya sebuah air terjun kecil di kejauhan. Anda harus menaiki rakit untuk mencapai air terjun Srigethuk. Di sini Anda harus membayar Rp 5.000 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Ada dua buah rakit yang beroperasi di sungai itu, yang mengangkut wisatawan secara bergantian.



Butuh waktu sekitar 10 menit untuk mencapai air terjun utama. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, namun rakit berjalan sangat lambat. Dari atas rakit Anda dapat mengabadikan pemandangan yang memang mayoritas didominasi warna hijau. Semakin dekat, air terjun Srigethuk (yang juga dikenal dengan nama Slempret) ini semakin menakjubkan. Ketiga air terjun jatuh dari ketinggian sekitar 25 meter. Ketiganya bergabung menjadi satu di bebatuan yang berwarna kekuningan di bawahnya.

Setelah turun dari rakit Anda harus menyeberangi batu-batu basah itu untuk mendekati air terjun. Rasakan sensasi mandi di bawah Srigethuk! Banyak wisatawan yang memanfaatkan waktu untuk mandi dan berenang di sungai sekitar air terjun. Hijaunya air di sini adalah karena lumut, bukan karena limbah, sehingga aman untuk mandi.

Beberapa bagian dari Gunungkidul merupakan tanah tandus sehingga air yang berasal dari Sungai Oya dan air terjun Srigethuk bagaikan oase di Desa Bleberan ini. Air dimanfaatkan untuk pengairan daerah pertanian penduduk setempat. Vegetasi yang umum di wilayah tersebut adalah jagung, jati, serta kayu putih.

Bila sudah puas bermain-main di air terjun, Anda dapat menumpang rakit untuk kembali. Apabila perut sudah melilit, ada beberapa warung makan di sekitar tangga menuju ke tempat parkir. Cobalah salah satu menu khas Gunungkidul, yaitu tiwul. Tiwul adalah makanan yang dibuat dari singkong. Secara umum, tiwul manis dimakan untuk makanan ringan.



Namun, di Gunungkidul serta beberapa daerah sekitarnya tiwul ini dijadikan pengganti nasi yang dimakan dengan lauk-pauk. Cukup dengan Rp 4.000 Anda dijamin kenyang makan tiwul berlauk tempe penyet!

Menuju ke Srigethuk


Dari Yogyakarta, Srigethuk dapat dicapai melalui jalan Yogya-Wonosari. Sebelum sampai di Wonosari, tepatnya setelah lapangan udara Gunungkidul,  Anda harus membelok ke kanan menuju ke Playen. Sampai di pertigaan pasar Playen, Anda kembali membelok ke kanan untuk menuju ke arah Desa Bleberan. Setelah itu akan ada penanda arah untuk menuju ke Srigethuk.

Tanda-tanda yang tersedia cukup banyak. Jalanan dari Yogyakarta hingga ke mulut Desa Bleberan sangat baik, namun setelah itu cukup buruk karena banyak bagian yang belum diaspal. Setiap orang yang berkunjung ke Srigethuk dipungut biaya Rp 2.000 sementara mobil Rp 3.000. Biaya itu sudah termasuk ongkos parkir, jadi masih sangat murah!

Selain Srigethuk, Anda juga dapat berkunjung ke Gua Rancang yang berada di desa itu. Biaya yang Anda bayarkan sudah termasuk kedua lokasi wisata sehingga Anda tidak perlu membayar lagi. Nah, saatnya wisata hemat ke Gunungkidul!

Sumber : id.travel.yahoo.com

Desa Bohol juara Nasional Peduli Kehutanan Desa Bohol juara Nasional Peduli Kehutanan

Gunungkidul (Solopos.com)–Desa Bohol, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, DIY menyabet juara II Nasional kategori Desa peduli kehutanan.
Desa yang berada di pelosok Gunungkidul itu berhasil menyisihkan ribuan desa se-Indonesia atas kegigihan warganya dalam mengelola hutan rakyat sejak tahun 2005 lalu.
Kepala Desa Bohol, Widodo kepada Harian Jogja, Jumat (9/9/2011) menjelaskan tropi juara II nasional itu telah diterima olehnya pada bulan Agustus lalu di Senayan Jakarta.
Pemberitahuan tersebut diberikan kepadanya melalui surat undangan yang ditandatangai langsung oleh sekretaris Negara, Sudi Silalahi.
Pihaknya dinilai secara nasional oleh Departemen Kehutanan menjadi nomor dua setelah salahsatu desa di Kabupaten Jepara Jawa Tengah, lantaran berhasil membuat penghijauan dalam waktu sekitar enam tahun.
Awal penghijauan itu, dilakukannya secara tidak sengaja dalam rangka memberikan penyadaran kepada masyarakat untuk menyelamatkan telaga dari kekeringan.
Program yang dicanangkan oleh pemerintah desa banyak terfokus pada penghijuan sejak tahun 2005, hingga menghasilkan sekitar 100 hektar hutan yang sudah tertanami pohon jati dan akasia selama lima tahun.
“Yang 100 hektar ini dahulu gundul, beberapa ada yang tanah kas desa ada pula yang tanah milik warga, dijadikan hutan rakyat istilahnya,” ungkap Widodo.

Sumber : www.harianjogja.com

Kamis, 01 Desember 2011

Ngampiran Sentra Kerajinan bambu

Sesuai dengan Keputusan Bupati tentang One Village One Product di Kabupaten Gunungkidul, yang salah satunya menetapkan Kecamatan Rongkop sebagai salah satu sentra kerajinan bambu, berikut ini kami tampilkan sedikit profil tentang Dusun Ngampiran, Desa Melikan, Kecamatan Rongkop yang merupakan sentra kerajinan bambu. Dusun ini terdiri dari kurang lebih 104 KK dan hanya 4 KK yang tidak menjadi pengrajin bambu.
Hasil produksi yang mampu dihasilkan oleh penduduk Dusun Ngampiran pada umumnya adalah alat-alat rumah tangga seperti tampah, tenggok, tambir dan sebagainya. Namun sebenarnya mereka mampu membuat beraneka ragam produk dari bahan dasar bambu., tergantung dari pesanan.

Laki-laki, perempuan, tua maupun muda, rata-rata memiliki kemampuan untuk mengolah bambu menjadi aneka macam hasil kerajinan bambu.
Pada umumnya mereka bermatapecaharian utama sebagai petani, namun setiap hari mereka mengisi waktu luang mereka dengan membuat kerajinan bambu. Hasilnya biasanya mereka jual setiap 5 hari sekali (sepasaran).



Rabu, 30 November 2011

Peraturan Daerah tentang RTRW

Dalam rangka membantu sosialisasi kepada masyarakat luas, berikut kami upload Peraturan Daerah Kabupaten Gunungkidul Nomor 6 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Gunungkidul Tahun 2010-2030. Semoga bermanfaat...
Untuk men-download ikuti link berikut

Jumat, 07 Oktober 2011

Wisata Pantai

Kabupaten Gunungkidul kaya akan potensi pantai. Sekitar 46 pantai yang dapat dijadikan objek wisata di Gunungkidul. Kali ini kami akan menampilkan 3 Pantai yang terdapat di sisi Tenggara, tepatnya di Kecamatan Girisubo, sebelah selatan Kecamatan Rongkop yaitu :
- Pantai Wediombo di desa Jepitu, Girisubo
- Pantai Sadeng di desa Pucung, Girisubo, dan
- Pantai Krokoh di desa Songbanyu, Girisubo
Berikut foto pantai Wediombo dan pantai Sadeng.
Gambar  Pantai Wediombo

Gambar Pantai Sadeng

Bagi yang berminat pergi ke sana, tentunya akan melintasi wilayah Kecamatan Rongkop.

Jumat, 30 September 2011

Warga Botodayaan Piket di Kuburan

Foto Ilustrasi


(Minggu, 04 September 2011)Kawanan binatang buas diduga jenis harimau berkeliaran di sejumlah wilayah kekeringan Kecamatan Rongkop, Gunungkidul dan menimbulkan keresahan warga. Binatang buas tersebut banyak dipergoki masyarakat di sejumlah tempat termasuk kompleks pemakaman (kuburan).
Akibatnya warga secara bergiliran menjaga lingkungan pemakanan agar binatang pemangsa daging itu tidak mengincar mayat yang telah dimakamkan. “Sudah sekitar satu minggu ini warga terpaksa melakukan giliran menjaga kuburan,” ujar Wasimin dan Ramdiyo warga Desa Botodayaan kepada KRjogja.com Minggu (4/9).
Dari pengalaman beberapa tahun lalu, tambahnya, ketika kekeringan terjadi banyak binatang buas keluar dari dalam goa untuk mencari air dan makanan. Salah satu dari kawanan binatang buas itu akhirnya dipergoki membongkar kuburan baru untuk memangsa mayat.
“Beruntung saat itu berhasil digagalkan dan untuk mencegah peristiwa terulang kita sepakat untuk menjaga makam ini,” kisahnya.
Warga menjaga tempat pemakaman ternyata tidak hanya terjadi di Desa Botodayaan Kecamatan Rongkop. Ngadiran (40) warga Semanu juga menyatakan tiap terjadi musim kekeringan kebiasaan menjaga lokasi pemakaman biasa dilakukan, mengingat sejumlah goa hingga saat ini masih dijadikan hunian diantaranya di Desa Candirejo, Cuwelo, Ngeposari dan sejumlah desa di Kecamatan Rongkop maupun Girisubo.

Salah satu prestasi BKM di Rongkop

Sejak tahun 2010 lalu Desa Semugih Kecamatan Rongkop,Gunungkidul,telah mendapatkan Reward sebesar  Rp.1.000.000.000 dari Kementrian Pekerjaan Umum Jakarta,pasalnya,Desa Semugih pada tahun 2005 lalu berhasil dalam peningkatan ekonomi Produktif yang diberikan oleh BLM(Bantuan Langsung Masyarakat)sebesar Rp 100.000.000 dan sampai saat ini telah berkembang dengan pesat.

Reward yang diberikan oleh Kementrian PU merupakan sebuah Prestasi yang sangat luar biasa dari Desa Semugih,melalui Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan(P2KP)y ang akan dilaksanakan pada 2011 ini dengan 3 agenda yang berupa,BLM(Bantuan Langsung Masyarakat),PLPBK(Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas),dan paket.

Saat ditemui Wartawan dibalai desa,kepala Desa Semugih Sugiyarto S.Pd.yang didampingi oleh Sekretaris TIPP(Tim Inti Perencanaan Pastisifatif)Wasdi Raharja.Sip serta ketua PLPBK Drs.Okto Bagiyo mengatakan,”kami merasa bangga karena tujuan P2KP ini pada Ibukota Kecamatan dan dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang mendapat hanya 2 Desa yaitu,Semugih dan Ponjong kebetulan keduanya dari GunungKIdul.

Semenjak tahun 2003 P2KP sudah masuk tepatnya bulan September namun 2 tahun kemudian kami baru mendapatkan dana tepatnya di Tahun 2005 melalui  Program BLM(Bantuan Langsung Masyarakat)tapi karena kami pengembangannya baik akhirnya kami pada tahun 2007 hingga 2009 lewat Program paket dari P2KP kami mendapatklan dana segar sebesar Rp.350.000.000,-yang telah kami plotkan untuk Sarana Prasarana jalan dan Penampungan Air Hujan.

Dan ditahun 2010 lalu kami memang mendapatkan reward dari Kementrian PU melalui Program BKM(Badan Keswadayaan Masyarakat)karena berhasil mengembangkan BLM ditahun 2005 lalu yang keuangannya sendiri dikelola oleh UPK(Unit Pengelola Keuangan)dan sampai sekarang sudah ada pengembangannya.”terang ketiganya

Mereka menambahkan,”untuk dana sebesar  1 m itu untuk Perencanaan Pembangunan dan Infrastrukturnya,contoh,pengelolaan Sumber Daya Air,PAH(Penampungan Air Hujan)Rehabilitasi Embung(Telaga),Reboisasi,peningkatan pengelolaan pertanian serta penataan permukiman.dan semua itu akan dijalankan pada bulan Juli besok,dengan awal pengerjaannya Sanitasi Terpadu,Jambanisasi,dan Kandang Kominal(Kelompok).cetus Ketiganya

Ketua PLPBK Drs.Okto Bagiyo menambahkan, ”Untuk semua baik berjalannya saat ini kami memang membutuhkan bebrapa Tenaga Ahli Pemasaran karena untuk mencari pendanaan yang untuk mencukupi Program ini(PLPBK)."
Sumber berita ada di  link berikut .

Pengumuman dari TNI

Bagi lulusan S1 yang berminat jadi Perwira Karier TNI, silakan link     bberikut....

Rabu, 03 Agustus 2011

Bupati Serahkan Bantuan 68 Masjid

Memasuki bulan puasa tahun 2011 ini, dengan terbagi menjadi tiga kelompok Pemkab Gunungkidul, Yogyakarta akan melakukan safari tarawih keliling ke berbagai masjid yang tersebar di 18 kecamatan. Bupati Gunungkidul, Hj. Badingah, S.Sos, Wakil Bupati, Drs. Immawan Wahyudi, M.H, dan Sekda, Drs. M. Joko Sasono memimpin rombongan secara terpisah dan bergiliran.

Dalam acara tersebut menurut rencana juga akan diserahkan bantuan dana pembangunan masjid/mushola dan buku perpustakaan secara simbolis oleh Bupati.

“Menurut rencana penyerahan bantuan uang pembangunan dan buku perpustakaan itu akan diselesaikan pada safari tarawih keliling yang hanya dilaksanakan selama 6 hari yang dimulai tanggal 4 Agustus 2011 mendatang,” ungkap Kepala Bagian Humas, Protokol dan Rumah Tangga Setda Gunungkidul, Drs. Aziz Saleh kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (2/8).

Sementara terpisah, Kepala Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat, Drs. Imam Trismanto melalui stafnya, Akhsan membenarkan bahwa dalam safari tarawih itu juga akan diserahkan bantuan uang pembangunan untuk 64 masjid dan mushola dengan total dana mencapai Rp 164 juta. Sedang bantuan untuk tempat ibadah lain yakni gereja dialokasikan Rp 70 juta untuk 6 lokasi , Pura 2 lokasi Rp 15 juta serta Rp 15 juta untuk 3 lokasi Vihara.


link berita dari sini

Gonjang Ganjing Pembebasan Tanah untuk JJLS

Pembebasan tanah untuk proyek Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta tahun 2011 ini masih terganjal belum adanya kesepakatan harga tanah antara pemkab dan warga di dua desa yakni Monggol, Kecamatan Saptosari dan Karangasem, Kecamatan Paliyan.

Demikian kata salah satu anggota panitia sembilan pengadaan tanah JJLS 2011 yang juga Kepala Bagian Kerjasama dan Pengendalian Pertanahan Setda Gunungkidul, Ir. Eddy Praptono, M.Si melalui stafnya Agus Nurcahyo kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (2/8).

“Beberapa kali musyawarah telah dilakukan oleh Panitia Sembilan untuk menentukan kesepakatan harga tanah berikut, karang kitri (tanaman) maupun bangunan di atasnya, namun sampai hari ini belum ada titik temu. Warga di dua desa itu masih bersikukuh mematok harga tanah permeter yang cukup tinggi. Warga Monggol minta Rp 140.000/meter kategori pekarangan dan Rp 125.000/meter untuk tegalan. Sedang di Karangasem, warga mengajukan harga permeter untuk pekarangan Rp 125.000 dan Rp 95.000 untuk tegalan,” jawab Agus agak ragu lantaran sebelumnya atasannya tidak bersedia berkomentar kepada wartawan.

Sementara itu, lanjut Agus, pengadaan tanah JJLS tahun 2011 ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya pemkab hanya menggunakan 2 kategori (zona) harga tanah yakni pekarangan dan tegalan, sekarang menggunakan 6 zona harga. Keenam zona tersebut meliputi tanah pekarangan di tepi jalan raya, tanah tegalan di tepi jalan raya, tanah pekarangan di tepi jalan lingkungan, tanah tegalan di tepi jalan lingkungan, tanah pekarangan dan tegalan yang tidak bersinggungan dengan jalan.

Agus menjelaskan total anggaran pengadaan tanah JJLS tahun 2011 mencapai Rp 3,9 milyar terdiri dari Rp 3,5 M APBD Provinsi dan sekitar Rp 400 juta APBD Gunungkidul rencananya akan digunakan untuk membebaskan tanah sekitar 30.000 meter persegi.  Namun dana tersebut saat ini tinggal sekitar Rp 3,3 Milyar saja karena telah digunakan untuk membayar sebagian pembebasan tanah JJLS tahun 2010 lalu menelan Rp 600 juta.

“Jika dalam waktu sepuluh hari setelah rapat Panitia Sembilan tanggal 27 Juli kemarin, atau tepatnya sampai dengan tanggal 7 Agustus mendatang belum juga ada titik temu/kesepakatan harga antara panitia dengan warga, maka rencananya pembebasan tanah akan ditunda atau dialihkan ke jalur JJLS lain seperti di Kepek dan Jetis di Kecamatan Saptosari dan Girijati di Kecamatan Purwosari,” ungkap Agus.

Sementara itu Sumiyardi, warga Monggol yang tanahnya akan terlewati JJLS dan Drs. Suprabawa Ketua BPD setempat yang dihubungi terpisah menuturkan bahwa warga yang tanahnya akan jalan jalur JJLS tetap bersekukuh dengan harga minimal sama dengan pembebasan tahun 2010 lalu. Permintaan harga tersebut menurut mereka masih dalam batas kewajaran, karena logikanya setiap tahun harga tanah akan semakin mahal, bukan semakin murah.

“Jika hanya karena ketidaksepakatan harga kemudian pemkab akan mengalihkan atau menunda pelaksanakan ganti rugi tanah melalui jalur lain, ya… tidak menjadi masalah. Toh warga juga tidak merasa dirugikan,” ujar mereka.
Diketahui bahwa untuk pelaksanaan proyek JJLS Kabupaten Gunungkidul sejak tahun 2005 hingga 2010 lalu, pemerintah baru membebaskan tanah sekitar 23 kilometer dari rencana total panjang JJLS yang mencapai 82,5 kilometer.
Pemkab Gunungkidul sendiri sampai saat ini belum dapat memastikan target selesainya proyek JJLS karena masalah klasik, terbatasnya anggaran.
link berita dari sini